21 Jan 2015

Fotografer by Adjie. (Dari Kanan): Kak Agus, Kak Christa, Miss Shanti, Dik Anggun, Kak Agnes, Ari Lasso, 

Iseng-Iseng
Kelas Inspirasi ~ Saya sendiri tidak tahu harus memulai dari mana? Jujur, mendaftar sebagai relawan kelas Inspirasi saat itu, tidak lebih dan tidak kurang bertema “iseng” semata. Bukan karena “meremehkan” tetapi karena memang sebagian besar langkah saya selalu berawal dari “iseng-iseng” kecuali menjadi pendidik. Singkat cerita, beberapa minggu kemudian, ketika membuka notifikasi Facebook, saya di”tag” oleh seseorang “Selamat bang Cun satu TIM dengan kita di SDN 2 Guntur Macan”. Lalu saya bertanya pada diri sendiri “trus kita mau ngapain neh?” (ntar kalo nanya di FB, takutnya diketawain bro,,, jaga imej..hihihi). 

Yang pertama kali saya bayangkan adalah mengajar anak SD. Bagi seorang pengajar sebuah perguruan tinggi swasta di  Mataram, saya hanya membayangkan kondisi ruangan 10x10 meter persegi yang diisi bocah-bocah merah putih. Lalu pikiran saya pindah pada memori “episode sekolah” bernama SD (maklum saat itu gak ada TK). Apa yang paling saya ingat? Ketika guru menyuruh menggambar, maka hasil gambarnya selalu kompak. Ada jalan berliku, kiri-kanan sawah dan laut, diujung  jalan ada gunung kembar dengan setengah matahari mengintip diantaranya. “seram” betapa “kasihan” nya saya saat itu. Apalagi kalau disuruh mengarang, semuanya pun kompak mengambil satu tema “BERTAMASYA”, kalau tidak ke rumah nenek, yaaa paling “banter” ke rumah Paman atau Bibi (seram banget kan dunia SD?).  “Ngapain dipikirin, go with flow” itulah “jampi” yang selalu saya gunakan untuk membunuh ketakutan. 


Satu jam menghayal, gak mau pusing, segera saja buka laptop, nanya Mbah Google dan Tante Youtube tentang Kelas Inspirasi. Tidak butuh waktu lama, saya pun faham bahwa menjadi relawan di kelas Inspirasi adalah pekerjaan tanpa bayaran (namanya juga relawan!) untuk memberikan sesuatu yang berharga (“bukan uang lho! coklat dan permen boleh” kata salah satu panitia) bagi masa depan anak-anak sesuai dengan profesi kita sebagai relawan. Pengacara (di kampung saya disebut Lawyer) masuk kelas pake toga bawa palu,  Penyiar (di kampung sebelah disebut Announcer) masuk kelas ala penyiar (yang jelas gak mungkin bawa pemancar radio), yang dokter pake jas putih ala dokter beneran (tapi emang dokter beneran kok!). “Laaaah…… saya ini dosen harus bagaimana?” akhirnya “sim salabim….!” Jadilah saya “Sainstist” abal-abal mewakili om Newton, om Galileo dan om-om lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu (kayak sambutan resepsi pernikahan jadinya neh!! wkwkwkwk). 


Bertemu Orang-Orang Gila
Tepatnya 10 Januari 2015, Briefing relawan kelas Inspirasi di kantor Camat Gunung Sari. Puluhan relawan dari berbagai daerah di Nusantara berkumpul. Ada yang malu-malu, ada yang senyam-senyum sendiri, dan lain-lain. Kita semua saling menegur satu sama lain bak sepasang kekasih yang baru ketemu setelah 10 tahun lamanya berpisah. “Aneh kan?” padahal belum saling kenal. Tapi ada satu hal unik yang saya tahu pasti. Yaitu tentang mereka (termasuk saya) memiliki satu kesamaan. Yaitu SAMA-SAMA GILA. “Lho kok bisa?” kalau mau tau buktinya, coba  aja daftar sebagai Relawan Kelas Inspirasi di mana aja. Dan di sinilah saya mulai berpikir bahwa saya telah TERSESAT DI JALAN YANG BENAR.
Kami pun berkumpul berdasarkan kesamaan misi. Saya dan 6 relawan lainnya mendapatkan misi bertarung di SDN 2 GUNTUR MACAN (nama tempatnya pun ikutan GILA kan!!!). ke-6 Orang Gila itu adalah 1) Miss Shanti Maro , seorang Iron Lady (bukan istrinya Iron Man), Edupreneur dari NTT yang tinggal di Bali, 2) Kak Agnes, seorang pengacara dari Jakarta yang mirip banget dengan Meriam Belina, 3) Kak Christa Rahma seorang Penyiar dari Surabaya yang syarat logika, 4) Anggun Wara Wiri seorang GIS Officer PT.ANTAM yang ngaku-ngaku kelahiran 91 (suka promosi, padahal gak tau bedanya sapi ma kerbau! wkkwkk), 5) Kak Agus, seorang Geologist dengan senyuman angling darma dari Lombok, dan 6) Adjie, seorang Suami hebat (bagi istrinya) dan Ayah tangguh (bagi dua wanita cantik di rumahnya) sekaligus sebagai fasilitator kami. Kami pun berlima (Anggun belum hadir, Agus Izin) Miss Shanti, kak Agnes, Kak Christa, dan Mas Adjie memilih Lesehan Dakota untuk berdiskusi dan berkenalan satu sama lain. Yang paling saya ingat saat itu dari tiap relawan adalah Miss Shanti mendominasi diskusi (belum mulai ngajar, kita sudah terinspirasi dengan orang ini. Owalaa), Kak Agnes yang mendominasi makanan di meja (setelah landing di BIL belum makan katanya), Kak Christa yang udah 5 kali ikut kelas Inspirasi  menjadi satu-satunya tempat bertanya (gaya ne orang, bentar lagi udah bisa jadi Kepala Sekolah Kelas Inspirasi). Dan mas Adjie yang senyumnya paling rajin. Terus saya? Nah itu dia…. Saya sedang pusing karena saat itu isi dompet cuma 100 ribu. Di sinilah saya benar-benar percaya bahwa Keikhlasan dan pengabdian itu dibayar oleh Allah dengan berlipat ganda. Buktinya, sebelum selesai makan, saya dapat SMS “mas, uangnya 3 juta sudah saya transfer ke rekeningnya barusan, thanks ya!!” horeeeee…. itu uang dari mana? … gak perlu tau! Yang penting halal dan bukan hasil korupsi, wkwkwk.

Jeruk Nipis dan Senyum Sejuta Harapan
2015, 12 Januari, kami bersama fajar mendahului mentari untuk satu janji menginspirasi anak Negeri. Cuti sehari untuk mengabdi pada Ibu pertiwi. Hujan memeluk badan menjadi saksi bagi pagi. 6 kilometer menuju desa, 1 kilometer menanjak ke punggung bukit tempat lahirnya berjuta cita-cita. Alhamdulillah, kehadiran kita disambut ceria meski upacara bendera tiada. Lalu hati saya bergetar dan berkata, berikanlah cahaya agar mereka yakin bahwa mereka bisa bercita-cita dan meraih asa.
Di sinilah puncak bahagia bagi saya. Saya menjadi manusia yang benar-benar merdeka. Seketika segalanya tentang problematika dunia yang fana, hilang ketika memandang wajah-wajah mereka. Pertama kali saya mendapatkan giliran untuk menginspirasi anak-anak kelas dua. “cari perhatian”, itulah salah satu kebiasaan anak-anak yang sangat dilema. Melarangnya sama saja dengan membunuh kebutuhan tertinggi yaitu “ingin dihargai”. Membiarkannya sama juga dengan merampas waktu belajar bagi anak-anak lainnya. Lalu? Saya hanya berusaha menjadi satu-satunya manusia yang paling menarik saat itu. Berusaha membuat mereka “penasaran” hingga mereka lupa siapa nama mereka. Apa yang saya lakukan? Saya mengeluarkan beberapa jeruk nipis lalu bertanya “siapa yang tahu ini apa?” semuanya teriak “Jeruk”. Saya sadar bahwa pertanyaan itu tidaklah menarik karena tentunya mereka yang dekat dengan alam pasti mengenal jeruk. Saya tidak menyerah, lalu saya bertanya lagi “kalian tahu kalau jeruk ini bisa menyalakan lampu?” semuanya diam, yang jauh mendekat, yang dekat pun merapat, lalu saya lanjutkan “saya akan kasih tahu caranya jeruk menyalakan lampu”. Skak mat……!!! Saya menang, mereka diam, saya seperti SLANK yang mampu menghipnotis jutaan SLANKER. Karena saya tahu, hanya rasa penasaran yang mampu menumbuhkan cinta dan suka. Saya pun membagi jeruk, uang logam tembaga, potongan seng dan lampu LED. Saya dan anak-anak bekerja sama merakit dan menghubungkannya. Lalu saya minta mereka untuk merangkaikannya. Alhasil. Bukan lampu menyala yang saya lihat. Tapi senyum sejuta harapan yang lebih terang dari lampu yang menyala di tangan mereka. Apakah ada kebahagiaan yang lebih tinggi selain membahagiakan orang lain?  Tidak ada! Lalu saya mengajak mereka untuk berteriak WUSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSS!!

Pesan
ada 10 pesan penting kepada anda dari kisah ini yaitu 1) Jadilah relawan kelas Inspirasi, 2) Daftarlah jadi relawan kelas Inspirasi, 3) bergabunglah menjadi relawan kelas Inspirasi, 4) Jadilah relawan kelas Inspirasi, 5) Daftarlah jadi relawan kelas Inspirasi, 6) bergabunglah menjadi relawan kelas Inspirasi, Jadilah relawan kelas Inspirasi, 7) Daftarlah jadi relawan kelas Inspirasi, 8) bergabunglah menjadi relawan kelas Inspirasi, Jadilah relawan kelas Inspirasi, 9) Daftarlah jadi relawan kelas Inspirasi, dan 10) jadilah, daftarlah dan bergabunglah menjadi relawan kelas Inspirasi untuk mengabdi pada Negeri. karena jangan hanya bisa bertanya "apa yang negeri ini berikan kepada saya?" tapi cobalah untuk bertanya "Apakah yang saya berikan untuk Negeri ini?"

Supermen WUSSSSSSS (volume 0,00001 %)
tulisan ini saya persembahkan untuk Miss Shanti Maro, Kak Agnes, Kak Christa, Anggun, kak Agus, Mas Adjie serta seluruh Relawan Kelas Inspirasi Lombok, Semoga kita selalu menjadi keluarga Indonesia.
Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama

0 komentar: