17 Jan 2015

 Pendidikan Indonesia yang sedang men-stapaki dua judul kurikulum (KTSP dan K-13) sedang berusaha mencari titik temu menuju pendidikan yang mencerdaskan, membebaskan, mencerahkan, dan menyadarkan. Salah satu target pendidikan yang paling penting yaitu generasi Indonesia yang berkualitas dan “sukses” dalam “mengendarai” kehidupannya. Kesuksesan merupakan harapan semua orang dan dijadikan “primadona” khususnya bagi anak-anak Indonesia. Kesuksesan diraih melalui suatu harapan yang mencakup tujuan, sasaran atau impian yang hendak diwujudkan bernama cita-cita. Kenapa cita-cita? Karena saat ini, masih ada sebagian besar anak-anak di pelosok Indonesia termasuk di NTB seperti “katak dalam tempurung” yang dibatasi “kegelapan” bercita-cita, bahkan berada dalam “kotak kaca sempit” yang tak mampu berbuat banyak melihat harapan besar di “atap” awan.

Tentang Cita-Cita

Gantunglah cita-cita mu setinggi langit – pribahasa ini merupakan harapan yang selalu ditanamkan pada anak-anak usia sekolah dasar di Indonesia. Meskipun masih ada yang tidak memahami “apa itu cita-cita?” tapi mereka memiliki harta “Aku ingin menjadi..” yang merupakan “saudara kembar” cita-cita. Semua orang yang sukses di bidang apapun selalu didahului oleh cita-cita. Tidak ada satupun kesuksesan yang terjadi secara kebetulan kecuali “koruptor”. Sehingga anak-anak Indonesia sangat perlu memiliki cita-cita sejak dini agar memiliki rencana yang baik serta semangat tinggi dalam belajar untuk meraih cita-cita tersebut. Ada beberapa hal yang menurut saya, cita-cita itu sangat diperlukan anak Indonesia; pertama, memberikan mereka harapan. Harapan untuk menjadi seseorang yang ditauladani melebihi sosok power rangers yang hanya bisa membuat mereka berkhayal. Kedua, mengenal alam sekitar. Mereka bisa membayangkan alam yang ramah, bersahabat, yang ada di sekitar untuk digunakan menembus batas “kegelapan” meskipun berada jauh di sudut-sudut Negeri. Ketiga, semagat belajar. Cita-cita akan memberi semagat belajar yang tinggi untuk menjadi anak berprestasi. Karena mereka selalu beranggapan bahwa hanya orang yang berprestasi yang bisa mencapai cita-citanya. Keempat, karakter yang kuat. Harapan untuk menjadi sesorang yang ditauladani secara langsung akan memberikan kebiasaan untuk meniru dan mencintai apa yang yang dia sukai (tauladan). Serta masih banyak hal lain yang bernilai positif bagi anak-anak Indonesia melalui cita-cita. Sehingga menurut saya sangat perlu mereka memiliki cita-cita dengan mengenal banyak profesi. Karena “miskin” nya referensi cita-cita berakibat pada rendahnya cita-cita bagi anak-anak NTB. Hal tersebut terbukti ketika mereka diminta untuk menyebutkan cita-cita, jawabannya hanya presiden, pilot, dokter, guru, kepala dusun, tukang ojek, serta menjadi orang-orang yang ada di sekitar mereka. Di sinilah peran penting setiap profesi harus meluangkan waktu untuk mengenalkan diri kepada anak-anak NTB serta memberi inspirasi di pelosok-pelosok negeri agar mata mereka (anak-anak NTB) terbuka dalam melihat masa depan yang lebih cerah.

Relawan Kelas Inspirasi

Beberapa hari lalu kelas inspirasi mendarat di Lombok. Puluhan relawan dari berbagai profesi seperti Dosen, Musisi, Fotografer, Lawyer, Wartawan, Penyiar radio, Geologist, Entrepreneur  dan lain-lain yang tersebar di seluruh Indonesia mengambil cuti sehari untuk memberikan inspirasi kepada anak-anak sekolah dasar di pelosok NTB. Bahkan ada dari mereka yang bekerja di luar negeri mengambil cuti untuk sehari mengajar dan memberikan inspirasi. Kelas inspirasi merupakan salah satu bagian dari Gerakan Indonesia Mengajar.  Yaitu sehari mengajar oleh berbagai profesi dengan tujuan mengenalkan diri dan profesinya kepada anak-anak NTB dan menginspirasi anak-anak agar menjadi apapun yang mereka inginkan. Sehingga anak-anak NTB tidak hanya bercita-cita menjadi presiden, guru, kepala dusun, bahkan tukang ojek. Kelas inspirasi memberikan kekayaan referensi bagi anak-anak NTB untuk bercita-cita sekaligus mengenal cita-cita. Yang menarik adalah kenyataan bahwa masih ada bahkan sangat banyak orang-orang di Indonesia yang rela tanpa dibayar (bahkan mereka memberi) untuk berjalan 3 km sampai dengan 4 km menuju sekolah-sekolah terpencil di pelosok NTB demi masa depan anak-anak Indonesia yang lebih cerah. Lalu bagaimana dengan professional-profesional di NTB? Pertanyaan ini lahir karena dari sekian banyak relawan, hanya ada segelintir orang dari NTB.

Gerakan Masif

Kegiatan kelas Inspirasi di seluruh Indonesia khususnya yang baru saja selesai di Lombok, berusaha “menggedor” hati semua orang untuk peduli pendidikan. Pendidikan yang kita ketahui sebagai tanggung jawab semua orang seharusnya “benar-benar” mampu diimplementasikan dalam suatu aksi nyata menurut kemampuan masing-masing. Selain kemampuan, yang tidak kalah pentingnya adalah kemauan. Kemauan untuk peduli dan berbagi untuk kemajuan pendidikan NTB. Saya berusaha ber-khusnudzon terhadap semua professional di NTB bahwa ketidakikutsertaan mereka menjadi relawan karena kurangnya informasi. Sehingga menurut saya ada dua langkah penting yang bisa kita lakukan untuk menginspirasi anak-anak NTB dalam bercita-cita yaitu: pertama, mengikuti kelas inspirasi berikutnya yang diselenggarakan oleh panitia kelas inspirasi. Kedua, pemimpin NTB membuat gerakan sendiri yang rutin dan massif secara sistematis untuk menggerakkan semua professional agar menyempatkan diri sehari mengajar dan menginspirasi anak-anak NTB. Gerakan massif ini bahkan bisa dibudayakan menjadi suatu rutinitas sebagai bentuk balas jasa kepada guru, yaitu dengan membantu guru membentuk cita-cita anak-anak NTB yang lebih baik. Sehingga semua professional yang ada di NTB  mengenal, merasakan, dan bahkan juga (bisa) terinspirasi dari anak-anak tentang wajah-wajah Indonesia yang berada jauh di tempat gelap dari masa depan.


Pada akhirnya saya hanya berharap bahwa beberapa tahun kemudian, akan lahir generasi-generasi emas NTB dari inspirasi-inspirasi professional melalui kegiatan sehari mengajar. Tidak bisa kita pungkiri bahwa cita-cita selalu berubah dan dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Cita-cita yang dimiliki anak biasanya berubah seiring waktu, SD ingin jadi presiden, SMP ingin jadi dokter, SMA ingin jadi guru. Tapi satu hal yang tidak akan pernah berubah dengan memiliki cita-cita yaitu semangat belajar dan keinginan berprestasi tinggi. Sehingga saya ingin mengajak diri dan semua kita untuk mari cuti sehari untuk mengajar, karena sehari mengajar seumur hidup bisa menginspirasi.

0 komentar: