13 Agt 2013


“Saya bukan memiliki bakat khusus, saya hanya menikmati rasa ingin tahu” 

~ Albert Einstein

Rasa ingin tahu merupakan suatu kodrat yang tuhan berikan kepada semua manusia. Karena pada hakikatnya rasa ingin tahu merupakan salah satu ciri bahwa manusia memiliki akal, sebagai pembeda dari mahluk Tuhan yang lainnya.
Rasa ingin tahu selalu bermula dari salah satu atau sebagian dari pertanyaan berikut; Apa, Mengapa, Bagaimana, Di mana, Kapan, dan Siapa. Bahkan seorang Ilmuan bernama Plato berpesan “Biarkanlah mereka bertanya mengapa, mengapa dan mengapa, karena dengan ‘mengapa’ mereka akan mendapatkan banyak pengetahuan”.
Hampir semua orang hebat dengan karya-karya besarnya di seluruh dunia menempatkan rasa ingin tahu sebagai awal berkarya menuju orang besar. Tentunya kita tahu bahwa seorang Archimedes dengan persamaan sederhananya, dimana masa jenis suatu benda sebanding dengan massa dan volume benda tersebut. Archimedes tidak menerima persamaan tersebut dari langit. Melainkan berawal dari rasa ingin tahu tentang bagaimana mengetahui tingkat keaslian suatu benda. Dikisahkan bahwa pada saat itu Archimedes diperintahkan oleh seorang raja untuk menyelidiki apakah mahkota emas yang dimiliki raja tersebut asli atau palsu. Rasa ingin tahu Archimedes menemaninya hingga pulang ke rumah dan menjadikan dia selalu berfikir keras untuk menemukan suatu cara logis. Dan pada akhirnya, ketika dia berendam di bak penuh air, sebagian air tersebut keluar bak, lalu dia dengan spontan teriak gembira setelah melihat air tersebut keluar. Bagaimana tidak, fenomena itu membuat dia berfikir bahwa volume dirinya sama besar dengan volume air yang keluar dari bak.  Dari sinilah dia menghubungkan rasa ingin tahunya. Dari fenomena ini pula konsep masa jenis bermula. Sehingga dia membuat konsep bahwa ketika suatu benda dimasukkan ke dalam Fluida (Zat alir), maka masa benda akan sama dengan masa fluida yang dipindahkan.
Archimedes adalah salah satu dari sekian banyak orang hebat yang menempatkan rasa ingin tahu sebagai awal mula suatu penemuan. Dan salah satu contoh dari sekian banyak contoh yang ada.
Lalu bagaimana dengan diri kita? Terlepas dari apapun profesi dan status kita, baik sebagai pelajar, mahasiswa, pendidik, dan bahkan orang tua, tentunya kita memiliki rasa ingin tahu. Yang membedakan kita dengan manusia lain hanyalah seberapa kuat rasa ingin tahu itu bertahan pada diri kita. Karena kekuatan rasa ingin tahu lah yang menjadikan tingkat pengetahuan kita di puncak menara tertinggi.
Bagaimana dengan rasa ingin tahu yang ada pada diri kita? Sekarang tanyakan pada diri Anda, “Apakah saya pernah memiliki rasa ingin tahu?”, “Apakah rasa ingin tahu yang saya miliki selama ini, saya temukan jawabanya?” pertanyaan ini merupakan pertanyaan yang sangat penting, khususnya pertanyaan yang kedua. Mengapa saya katakan penting? Karena sebagian besar dari kita biasanya selalu berhenti sebelum menemukan jawaban. Dalam mengikuti rasa ingin tahu, setiap orang tentunya akan bertemu dengan kejenuhan, keletihan dan bahkan rasa malas. Maka mulailah dari sekarang untuk menanamkan tekad bahwa “Kejenuhan, keletihan, malas dan kroni-kroninya adalah musuh yang harus dibasmi sebelum mereka semua membasmi rasa ingin tahu pada diri kita”.
Menemukan jawaban dari rasa ingin tahu, pada saat ini tentunya lebih mudah dibandingkan dengan beberapa abad yang telah lewat. Hidup di zaman teknologi yang serba cepat berkembang, kita dimanjakan dengan jutaan dan bahkan milyaran jawaban. Sebut saja ketika kita ingin mengetahui “Mengapa lampu bisa menghasilkan cahaya?” kita hanya butuh beberapa detik ketika bertanya kepada Mbah Google. Mbah Google akan memberikan informasi yang lengkap, detail, baik berupa hipotesa, Hukum, bahkan eksperimen-eksperimen. Jika Mbah Google merasa kurang mampu, dia akan memberikan kita rujukan-rujukan lengkap baik dari tulisan beberapa abad  yang lalu maupun referensi yang baru ditulis beberapa hari sebelumnya.
Memiliki rasa ingin tahu merupakan suatu anugrah Tuhan yang patut disyukuri. Maka kita harus memeliharanya dengan keyakinan yang kuat bahwa itu adalah modal terbesar untuk menguasai Dunia. Memiliki rasa ingin tahu sama halnya dengan beternak. Ketika kita memiliki satu pasang hewan ternak, maka kita harus sungguh-sungguh memeliharanya, menjaganya melewati tantangan alam seperti penyakit dan iklim sampai hewan tersebut berkembang biak menjadi banyak. Sehingga kita bisa menghitung berapa banyak keuntungan yang kita dapatkan dari modal sepasang hewan ternak. Tapi jika kita tidak serius dan tidak yakin, maka hanya ada dua pilihan, ternak kita tidak akan berkembang biak bahkan mati oleh tantangan alam. Begitu juga rasa ingin tahu. Ketika kita memiliki rasa ingin tahu terhadap satu hal, maka kita harus yakin dan berusaha sungguh-sungguh untuk menemukan jawabannya. Dalam proses mencari satu jawaban, kita akan menemukan ratusan bahkan ribuan pengetahuan yang berhubungan dengan satu jawaban yang kita inginkan. Tapi apabila rasa ingin tahu terhadap satu hal saja enggan dan malas untuk kita cari tahu jawabannya, maka pastikan kita akan menjadi manusia kebingungan dan “sok tahu” atas segala sesuatu. Dan sudah pasti kita tidak akan pernah tahu karena kita tidak berusaha untuk mencari tahu.
Tuhan menciptakan Alam semesta sesungguhnya bukan semata-mata hanya untuk kita nikmati. Melainkan agar kita berfikir. Dengan berfikir kita akan mengetahui tentang sisi banyak hal. Sebagian besar dari kita enggan menggunakan akal untuk berfikir sehingga akal menjadi tumpul dan tak berdaya.
Apakah kalian sudah siap sukses dan menjadi orang hebat? “Tapi saya ini hanya anak seorang petani, bagaimana mungkin bisa sukses”. Apakah Einstein itu anak seorang presiden? Apakah anak petani dilarang menjadi orang hebat? “iya sih, tapi nilai saya di sekolah selalu buruk, saya tidak memiliki bakat apapun” Apakah orang yang nilai raportnya buruk tidak boleh maju menjadi orang hebat? Einstein adalah anak seorang pedagang sederhana. Bahkan nilai-nilai einstein ketika sekolah selalu terbelakang. Lalu apa masalahnya? “Einstein kan hidup di Jerman, belajar di Amerika, nah...kalo saya kan di Indonesia”. Stop! Berhentilah mencari alasan. Setidaknya Einstein juga manusia, Indonesia juga tidak kalah Sumber daya alamnya dibanding negara lain. Kenapa kita selalu menjadikan lingkungan dan orang lain sebagai alasan? Kesuksesan yang kita raih itu berawal dari diri kita sendiri.
Jika Anda pernah menonton film Dokter Carson atau membaca bukunya, Anda mungkin akan paham dan mengerti bahwa kita akan menjadi apa yang kita inginkan. Dokter Carson adalah seorang Dokter pertama yang berhasil melakukan operasi pemisahan kembar siam dengan selamat. Dia selalu berkata kepada ibunya ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, “Bu, Saya ini bodoh dan tidak mungkin bisa menjadi orang pintar”. Tapi ibunya terus memberi motivasi dan mengatakan “Engkau tidak bodoh, hanya saja engkau belum berusaha keras untuk menggunakan otak mu”. Lalu dia mulai belajar menggunakan otaknya. Bagaimana? Dia menggunakan waktu luangnya untuk membaca buku yang dia sukai di perpustakaan lalu menceritakan isi buku tersebut kepada ibunya. Sampai suatu ketika, Carson pulang dari sekolah berjalan kaki lalu menemukan sebuah batu yang berbeda dari batu lain di sekitarnya. Rasa penasaran Carson membawanya untuk mencari buku tentang Batu dan Mineral di perpustakaan. Sehingga dia mengetahui dan menemukan bahwa batu yang ditemukan itu adalah Obsedien. Bukan nama saja yang dia tahu, bahkan dia mengetahui bagaimana cara terbentuknya.

Beberapa kisah yang telah disebutkan adalah sebagian kecil dari milyaran kisah orang-orang hebat yang menggunakan dan menikmati rasa ingin tahunya untuk menguasai pengetahuan. Dengan terus mengikuti rasa ingin tahu, kita akan mengetahui siapa kita dan apa bakat kita. Dengan membiarkan rasa ingin tahu terus mengalir di otak kita, tidak menutup kemungkinan kita akan membuat suatu karya hebat yang bermanfaat bagi dunia.

0 komentar: