13 Agt 2013

Setelah sekian banyak aksi kekerasan yang terjadi di Indonesia, dari tingkat pelajar, masyarakat, hingga kemarin (18/07/2013) tentang bentrok antara Front Pembela Islam (FPI) dengan Masyarakat di Kendal, mengundang reaksi dan perhatian publik yang cukup besar. Dua hari yang lalu, di Sekretariat Institut Rumah Edu Samawa (IRES) juga menjadikan kekerasan di Indonesia sebagai Trend Topik. Setelah beberapa teman dan Pengamat dari LSM memberikan pandangan-pandangannya, tiba-tiba salah seorang teman bertanya ke IRES. “Lalu bagaimana pandangan IRES terhadap bentrok FPI di Kendal serta kekerasan yang sejenis?” pertanyaan ini sangat sulit dijelaskan secara sederhana. Mengikuti pandangan Ahmad Baedowi terhadap kekerasan yang terjadi di Monas, maka IRES juga memiliki pandangan yang sama namun judul berbeda “Dendam Tak Disengaja” itulah sebutan yang kiranya memiliki korelasi yang sesuai secara teoritis terhadap bentrok Kendal dan kekerasan yang terjadi selama ini. “Dendamnya siapa?” Tanya salah seorang anggota diskusi. “Guru” dengan spontan IRES menjawab. “Lho, Kok bisa?” Guru sebagaimana orang tua, adalah komponen yang sangat paling memungkinkan memberikan pengaruh terhadap jalan pikiran dan prilaku seorang murid , karena guru memiliki daya pikat dan daya tarik tersendiri ketika mengajar. Sehingga IRES akan mencoba mengkorelasikan antara gaya menagajar guru dengan beberapa kekerasan yang terjadi tidak terkecuali FPI.

Terdapat empat tipe pola mengajar yang umum diketahui dalam perspektif psikologi pendidikdan. 1) lalai (Negligent), 2) otoritatif (Authoritative), 3) terlalu hati-hati (Indulgent), dan 4) otoriter (Authoritarian). Lalu bagaimana empat tipe mengajar ini bisa mengarah kepada sikap peserta didik? Melihat dalam unsure mengajar, seorang guru harus memiliki unsure kehangatan (Warmth) dan Kontrol (Control). Kita bisa mengidentifikasi bagaimana tipe mengajar setiap guru dengan melihat dua unsur di atas. 

Misalnya, apabila seorang guru memiliki kehangatan dan kontrol yang kuat terhadap peserta didik dalam mengajar, maka akan bisa dipastikan guru tersebut adalah guru yang otoritatif. Pengaruhnya bisa menjadikan peserta didik memiliki kecendrungan untuk lebih percaya diri, mampu mengendalikan diri, selalu gembira, mampu bekerja sama dan bersahabat dengan semua orang. Sebaliknya, bila unsur kehangatan dan kontrol tidak dimiliki oleh seorang guru dalam mengajar peserta didiknya, maka dipastikan guru tersebut adalah tipe guru lalai (Negligent). Dampaknya seorang murid kemungkinan akan menjadi nakal, tidak patuh, cepat frustasi, serta tidak mampu mengendalikan diri. Ketika seorang guru memiliki kehangatan dalam mengajar, namun tidak memiliki kontrol terhadap peserta didik, maka guru tersebut masuk dalam tip eketiga yaitu terlalu berhati-hati (Indulgent), yang akibatnya peserta didik mudah memiliki kecendrungan agresif dan impulsive, tidak dewasa, kurang perhatian dan bahkan tidak patuh. Yang terakhir adalah guru otoriter, yaitu guru yang memiliki kontrol yang kuat terhadap peserta didik namun tidak dibarengi dengan kehangatan dalam berinteraksi dengan peserta didik. Dampaknya adalah peserta didik akan mudah marah, tidak stabil, cemas, gelisah, khawatir, tidak merasa aman dan bahkan akan sangat agresif.

“apakah mungkin anggota FPI, serta anggota beberapa kelompok yang melakukan kekerasan selama ini, ketika di sekolah diajar oleh guru yang memiliki karakter otoriter dan Indulgent?” meskipun begitu sulit untuk dilacak satu persatu di mana mereka pernah sekolah, hal tersebut sangat mungkin terjadi. Bisa jadi mereka bersekolah di lingkungan yang kurang kondusif, misalnya, dari tulisan Paox Iben yang membaca konflik di BIMA, salah satu faktor kerusuhan dan konflik adalah mahasiswa yang dulu belajar dari lingkungan yang tingkat kondusifitas dan karakter lingkungan yang berbeda. Dalam pandangan IRES, sangat mungkin bahwa dulu mereka sekolah di lingkungan yang guru-gurunya otoriter dan Indulgent. Terutama guru-guru yang tertekan secara emosional karena tingkat pendidikan dan gaji yang kurang sehingga mereka tidak mampu mengerahkan kemampuan terbaik dan mereka tertekan sebagaimana kondisi umum dunia pendidikan kita. 

Terlepas dari pertentangan ideologi dan prinsip, sudah seharusnya semua pihak terutama pemerintah memperhatikan dengan sangat sangat sangat sangat serius pendidikan kita. Agar masyarakat menjadi cerdas dan tidak mudah terjerumus kedalam isu-isu pertikaian dan mengarah kepada konflik tak berujung. Pendidikan kita harus melahirkan generasi-generasi pemaaf, yang cukup kuat untuk mengakui kelemahann dan kekurangannya, yang rendah hati atas kelebihan dan kemenangan, serta mampu mengenal diri sendiri dan Tuhannya, karena itu adalah landasan dari ilmu pengetahuan.

*)Penulis adalah Direktur Institut Rumah Edu (IRE)

0 komentar: