1 Apr 2013


Pendidikan berbasis pada nilai-nilai luhur, nilai akademik, kebutuhan peserta didik dan kebutuhan masyarakat merupakan salah satu landasan filosopi pengembangan kurikulum di Indonesia. Perubahan-perubahan kurikulum sejak tahun 1945 merupakan suatu langkah yang diambil Pemerintah dalam mencari bentuk kurikulum yang ideal mengikuti dinamika kehidupan masyarakat. Kurikulum KTSP yang berumur 6 tahun, dengan beberapa kelemahan dipandang belum mampu menjawab tantangan masyarakat, sehingga Kemendikbud pun mencoba kurikulum 2013 yang menurut jadwal akan dimulai sekitar Juni 2013 mendatang. 

Menghadapi kurikulum baru, pendidik dan tenaga kependidikan dalam lembaga pendidikan Negeri maupun Swasta tentunya wajib mempersiapkan superioritas intelektualnya sebagai salah satu faktor dominan pendukung dan penentu keberhasilan kurikulum. Terjadinya kesenjangan kondisi pendidik saat ini, dimana mereka hanya mampu memenuhi kompetensi profesi saja. Ini menjadi salah satu alasan lahirnya Kurikulum 2013 sebagai alat menuju kondisi ideal pendidik dan tenaga kependidikan, diharapkan mereka tidak hanya mampu memenuhi kompetensi profesi saja, melainkan harus mampu memenuhi kompetensi pedagogi, sosial dan personal serta memiliki motivasi mengajar yang tinggi. Pemenuhan kompetensi ideal merupakan suatu jawaban dalam menghadapi tantangan masa depan dan kompetensi masa depan. 

Profesional Development
Pengembangan kemampuan professional (Profesional Development) merupakan usaha sadar dan berkelanjutan dalam meningkatkan mutu tenaga kependidikan di sebuah lembaga pendidikan. Menurut Baedowi (2012), proses pengembangan kemampuan pendidik didasarkan pada enam prinsip. Pertama, managemen sekolah harus berusaha menumbuhkan kesadaran dan minat di kalangan guru untuk terus menerus  belajar agar mereka mampu merespon tuntutan profesionalitas  dan dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang berjalan secara dinamis. Prinsip yang pertama ini dirangkul oleh kurikulum 2013 dengan menerapkan pembelajaran tematik integratif, serta konsep mutu yang tidak didasarkan pada kendali mutu (Quality Control), melainkan didasarkan pada jaminan mutu (Quality Assurance). Artinya profesionalisme seorang pendidik dalam konteks penilaian proses atau kualitias belajar peserta didik akan memaksa sekolah khususnya pendidik untuk selalu Up to Date terhadap segala informasi dalam memenuhi tuntutan profesionalisme dan ilmu pengetahuan yang dinamis dan selalu berkembang dengan cepat.

Kedua, proses pembelajaran merupakan kunci utama mencapai hasil pendidikan yang optimal. Prinsip kedua ini merupakan harapan setiap kurikulum tidak terkecuali kurikulum 2013. Perlunya pendidik dalam menguasai materi yang akan diajarkan serta menguasai model, metode maupun pendekatan pembelajaran merupakan suatu kesatuan yang harus dimiliki seorang pendidik dalam memenuhi kompetensi profesi maupun kompetensi pedagogi. Kondisi pendidik saat ini dalam memandang suatu model, metode ataupun pendekatan pembelajaran hampir sama dengan kaum muda yang mengikuti Life Style. Sebagaian besar pendidik begitu hobi menggunakan model, metode ataupun pendekatan pembelajaran yang baru tanpa melihat relevansinya dengan  kebutuhan peserta didik, kultur, maupun ketersediaan sarana prasarana. Alhasil proses pembelajaran pun akan kurang optimal. Kurangnya pemahaman dan motivasi belajar tentang suatu materi maupun metode pembelajaran merupakan salah satu faktor tidak mampunya seorang pendidik dalam memenuhi kompetensi professional, pedagogi maupun personalnya.

Ketiga, interaksi antara pendidik dan peserta didik dalam proses pembelajaran.   Prinsip ketiga ini lebih menekankan pada kemampuan seorang pendidik dalam berkomunikasi. Kurikulum 2013 dengan integrasi mata pelajaran serta penambahan jumlah jam belajar yang didasarkan pada OECD Average, akan memaksa pendidik yang hanya selalu mendewakan papan tulis dalam proses belajar mengajarnya, agar lebih kreatif, inovatif, serta belajar dan memperbaiki diri dalam mengkomunikasikan materi ajar. Penilaian yang lebih menekankan pada proses, menuntut pendidik untuk lebih intens dan sistematis dalam berinteraksi dengan peserta didik.

Keempat, peserta didik sebagai subjek pembelajaran. Kelima, kreativitas guru dalam mengembangakan pembelajaran partisipatif. Kedua prinsip ini saling berhubungan. Sekaligus dua hal yang selalu diabaikan oleh pendidik. Peserta didik sebagai subjek pembelajaran hanyalah judul laporan pembelajaran pada setiap Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sebagian pendidik. Selama ini  peserta didik di sebagaian besar sekolah ibarat jam’ah yang mendengar ceramah dan khutbah tanpa suatu umpan balik. Sehingga daya kritisnya pun ikut mati ditelan sistem belajar  yang tidak memadai. Faktor ini menjadi PR pendidik untuk lebih sering mengembangkan pembelajaran melalui riset dan penelitian tindakan. Sehingga penelitian-penelitian oleh pendidik bukanlah sekedar suatu  formalitas untuk menaikkan golongan jabatan, melainkan lebih kepada evaluasi seorang pendidik terhadap profesionalitas, pedagogi, sosial dan personalnya.

Keenam, dukungan dan peran serta masyarakat. Masyarakat di sini adalah yang berhubungan langsung dengan sekolah. Dalam hal ini adalah Komite Sekolah yang di dalamnya adalah orang tua dari peserta didik. Keberhasilan dan kegagalan peserta didik tanggung jawab siapa? Jika pertanyaan ini di hadapkan pada guru, maka sebagian mereka akan menjawab orang tua. Tetapi akan sebaliknya jika pertanyaan itu dihadapkan pada orang tua. Sebagian besar mereka akan menjawab bahwa tanggung jawab terbesar kegagalan dan keberhasilan peserta didik adalah guru. Tentunya pro kontra ini menjadi bukti bahwa masyarakat dan pendidik di Negara kita kurang berani mengakui dan jujur terhadap kelemahan masing-masing. Pepatah “guru kencing berdiri, maka murid kencing berlari” merupakan senjata yang selalu digunakan oleh beberapa pihak dalam menuding guru. mungkin semua orang tua harus diajak menonton cuplikan film Gladiator. Kenapa Gladiator? Di cuplikan film tersebut terdapat adegan yang baik tentang peran orang tua terhadap anak-anaknya. Dimana ketika Caesar sebagai orang tua dibunuh oleh anaknya Commondus. Lalu Caesar bersimpuh dan berkata “Your fault as a son, is my failure as a father” yang artinya “kegagalanmu sebagai seorang anak adalah kegagalan saya sebagai seorang ayah”. Kalimat ini merupakan kalimat fantastis yang akan memahamkan orang tua tentang betapa vitalnya peran mereka terhadap perkembangan anak. Pada dasarnya antara pendidik, peserta didik dan masyarakat dalam hal ini komite sekolah, ketiganya memiliki peran dan tanggung jawab yang proporsional. Sehingga diperlukan interaksi yang intens dan bersama-sama dalam menjalankan fungsinya. Selain itu penekanan pada prinsip yang keenam ini  berada pada komite sekolah yang harus faham terhadap fungsinya sebagai  pemberi pertimbangan (Advisory Agency), pendukung (Supporting Agency), Pengontrol (Controling Agency) dan mediator. Sungguh mustahil ketika masyarakat mengharapkan kualitas pendidikan yang tinggi, sementara masyarakat sendiri tidak mau berpartisipasi terhadap pendidikan sesuai dengan fungsinya. Bahkan akan sangat menyedihkan bila melihat fakta sebagian besar komite sekolah yang tidak mengetahui fungsinya. Fenomena inilah yang menjadi tanggung jawab penuh pemerintah melalui dinas terkait untuk membuat program-program perbaikan professional development khususnya dalam meningkatkan partisipasi masyarakat terhadap pendidikan.

Kurikulum 2013 yang perubahannya menitik beratkan pada standar kompetensi lulusan, standar isi,  standar proses dan standar penilaian, tidak akan berjalan seperti yang diharapkan ketika komponen dominan dalam kurikulum seperti pendidik tidak memiliki integritas yang diharapkan. Kurikulum 2013 akan menguji seberapa besar integritas pendidik dan tenaga kependidikan. Sehingga sudah sepatutnya semua pendidik menyiapkan mental model pendidik dengan merenungkan kata bijak dari Khairil Anwar bahwa, tugas utama seorang Pendidik/Guru adalah mengantarkan anak agar bisa melakukan eksplorasi secara maksimal terhadap daya jelajah intelektual mereka. Dan pada akhir tulisan ini saya ingin mengajak kepada kita semua untuk berpartisipasi dengan porsi masing-masing dalam memajukan pendidikan Indonesia, menuju pendidikan yang kita cita-citakan bersama.

2 komentar: