25 Jul 2014

Salam edu...
Pernahkah sahabat edu membaca "Einstein Quotes"? dari sekian banyak "Quotes" ada satu 'Quote' yang menarik. yaitu:

"Everybody is a genious. But if you judge a fish by its ability to climb a tree it will spend its whole life thinking its stupid".

Einstein mengeluarkan statemen yang tidak mengada-ada. sebagai seorang saintis sekaligus filsuf modern, dia mencoba memberikan pandangan tajam tentang konsep jenius. dia mengatakan bahwa "semua orang jenius, tetapi jika anda menilai ikan melalui kemampuannya memanjat, maka itu akan menghabiskan waktu seumur hidup dalam berfikir dengan cara yang bodoh" (kira-kira begitulah artinya).


Pandangan ini sangat menarik khususnya bagi praktisi di bidang pengajaran dan pembelajaran. saya memandang ungkapan tersebut sebagai sebuah 'peringatan keras' ketika merefleksi keadaan pendidikan khususnya kurikulum dan lebih khususnya evaluasi dan assesmen di sekolah maupun perguruan tinggi di Indonesia. Saya katakan sebagai 'Peringatan keras' dengan dua alasan mendasar: (1) Di Indonesia, guru maupun dosen sering kali 'khilaf' membuat kategori siswa (mahasiswa) pintar dan siswa bodoh, (2) Di Indonesia,  Guru maupun dosen sering kali egois dan sentimen dalam memberikan perhatian ketika mengajar.

Sumber: kaskus.co.id

1. Siswa pintar dan bodoh


pintar seharusnya bukan antonim dari bodoh. karena bodoh adalah suatu sifat yang ditujukan kepada sesuatu yang tidak menggunakan akal dan tidak berpikir. sehingga sungguh "terlalu" jika ada seorang guru atau dosen yang mengarahkan kata tersebut kepada siswa maupun mahasiswa. Selain membunuh semangat belajar dan kreatifitas, kalimat tersebut bahkan bisa mengarah kepada "Verbal Abuse". Kenapa kita kerap kali mendengar kata bodoh? selain karena guru "kurang referensi" kata "positif" juga disebabkan oleh kurangnya pemahaman terhadap pengajaran. guru dan dosen terlalu sering 'khilaf' dalam menilai siswa. sebagian mereka cendrung menikahkan 'pintar' dengan angka pada tiap nilai mata pelajaran. padahal jika diusut lebih mendalam, indikator yang digunakan dalam mengukur dan mengevaluasi kejeniusan siswa belum tentu repesentatif. dan yang lebih parah ketika sebagaian guru dan dosen menilai siswa maupun mahasiswa 'sekedar' memenuhi syarat formalitas dalam sebuah lembaga pendidikan. pada akhirnya yang menjawab banyak dikatakan pintar, kemudian yang menjawab sedikit disebut kurang pintar (bahkan bodoh). Apakah ini benar? kekeliruan terbesar seorang pendidik (guru maupun dosen) ketika menggeneralisasi pintar dan kurang pintar dari hasil satu mata pelajaran atau bahkan hanya satu materi. hal itu hanya benar jika penilaian yang dibuat mencakup indikator yang representatif dan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan dalam pengajaran satu mata pelajaran. sehingga ungkapan yang seharusnya adalah "si A pintar mata pelajaran B" misalnya, Andi pintar matematika, Bambang pintar Bahasa Inggris, Andi pintar matematika, bahasa inggris dan Fisika.


salah satu prinsip penting dalam pengajaran adalah bahwa semua siswa memiliki keunikan, dan kecerdasan yang berbeda. guru dan dosen sebagai peserta didik memiliki kewajiban untuk memompa dan mengarahkan agar potensi dan keunikan serta kecerdasan tersebut menjadi positif dan berkembang secara mandiri agar mereka hadir menjadi seorang ahli sesuai dengan bakat dan minatnya. jika semua pendidik memahami dan sadar akan hal ini, niscaya tidak akan ada lagi kita mendengar kata bodoh. karena pendidik akan menyadari bahwa semua manusia memiliki bakat dan keunikan sendiri. dan inilah yang dipandang einstein dengan potongan kalimatnya "Everybody is Genius......." bahkan dia memperuatnya dengan ungkapan lain " saya tidak cerdas. saya hanya selalu mengikuti rasa ingin tahu"


2. Sentimen dan Egoisme


Sentimen dan egois adalah penyakit 'samar' dan selalu tidak disadari oleh pendidik pada diri mereka. Dalam pembelajaran, terkadang siswa merasa terpukul ketika arah pengajaran hanya kepada beberapa orang (yang dianggap guru sebagai siswa pintar). bahkan ironisnya dalam penilaian, ada beberapa pendidik baik guru maupun dosen yang hanya menilai segelintir orang saja, kemudian siswa yang lain selalu diasumsikan kemampuannya berada di bawah standar. hal inilah yang merusak prinsip pendidikan berkeadilan. padahal, semua siswa memiliki hak yang sama untuk cerdas dan pintar. 



dua alasan tersebut adalah masalah yang sering kita jumpai meskipun banyak persoalan lain yang eksis duduk manis. sehingga penting dan bahkan urgen bagi pendidik untuk memperhatikan metode serta perangkat penilaian dalam mengukur kemampuan siswa secara komprehensif. jangan sampai kita jumpai kasus 'lucu' dimana penilaian untuk siswa yang sama terhadap hal yang sama oleh guru yang berbeda juga akan berbeda. sudah bisa ditebak bahwa alat ukur yang digunakan pasti berbeda. disinilah maksud adanya tujuan pengajaran baik khusus dan umum agar indikator, SK maupun KD yang dibuat untuk mencapai tujuan kurikulum bisa tercapai.. akan sangat 'konyol' ketika misalnya guru menilai kemampuan fisika siswa hanya melalui tes kognitif tanpa mengetahui bagaimana dimensi pengetahuan dan psikomotor serta afektifnya. pandangan einstein ini sekaligus menjadi cambuk bagi guru 'ahli pedang' untuk mengajarkan 'permainan tongkat' yang lintas jalur dalam mengajar. 


sehingga pada akhirnya saya berpendapat bahwa guru menuju profesional hanya jika mereka mampu memahami secara utuh prinsip-prinsip penilaian agar diagnosa kemampuan siswa tidak keliru dan kemudian berujung pada fitnah belaka


semoga pendidikan indonesia semakin jaya dengan lahirnya banyak guru berkualitas.

salam edu....

0 komentar: